Showing posts with label Dunia Anak. Show all posts
Showing posts with label Dunia Anak. Show all posts

Saturday, September 29, 2012

Agar Anak Nyaman Belajar Menulis

shutterstock 
Belajar menulis bisa menjadi aktivitas menyenangkan bagi si kecil, jika orangtua memberikan dukungan yang tepat. Agar si prasekolah senang dan nyaman belajar menulis, ada beberapa hal yang patut di perhatikan oleh orang tua:

* Gunakan alat tulis berbentuk segitiga

Ada pensil dengan bentuk seperti segitiga (tidak bulat) dengan "garis tengah" agak besar dan tidak licin. Pensil jenis ini mudah di pegang oleh anak. Setelah kemahiran bertambah, dapat ditingkatkan ke pensil bentuk lebih kecil.

* Tidak memaksa anak
Pemaksaan membuat anak tertekan dan takut. Selalu lakukan stimulasi dengan cara-cara menyenangkan dan nyaman buat anak. Sungguh bijak jika stimulasi sekaligus dijadikan ajang bermain, penuh dengan nyanyian, canda dan tawa. Stimulasi yang menyenangkan akan membuat anak mudah menyerap apa yang diajarkan padanya. Bila anak mengeluh capek atau bosan, hentikan saja dan cari aktivitas lain.

* Hindari memberi target
Biarkan anak menuliskan apa yang ingin ditulisnya, orangtua hanya membimbing agar anak dapat menulis dengan baik. Ingat, pemberian target hanya akan membuat anak tertekan dan enggan menjalani stimulasi.


Sumber : kompas.com | Kumpulan Informasi Menarik | Foto : Anak Belajar
Tags : Dunia Anak, Tips Anak Nyaman Belajar

Sunday, September 23, 2012

Perlukah Anak Balita Sekolah

Sekarang ini semakin banyak orang tua yang ingin lebih cepat memasukkan buah hatinya ke sekolah. Anak usia di bawah 3 tahun pun mulai ‘sekolah’ di playgroup yang belakangan banyak yang membuka kelas khusus baby. Mereka berharap semakin dini anak sekolah, maka ia akan semakin pintar. Benarkah demikian?

Menurut Mayke S. Tedjasaputra, Psikolog dan Play Therapist, anak usia di bawah 3 tahun belum perlu dimasukkan ke sekolah. Sebaiknya asuhlah anak di rumah dan berikan anak kesempatan bermain yang lebih bervariasi dan sesuai dengan tahap perkembangan usia mereka. Orang tua hendaknya menjadi teman bermain anak dengan memberikan kebebasan bereksplorasi dan belajar dari kesalahan. Dalam hal ini anak akan mendapat kesempatan untuk belajar mandiri.

Dengan bermain bersama, akan tercipta ikatan yang kuat antara orang tua dan anak terutama ibu. Peran ibu sangat penting karena ibu merupakan guru pertama sejak anak masih dalam kandungan dan di 3 tahun pertama usia anak.

Melalui kegiatan bermain, orang tua bisa memahami anak lebih baik dan mampu mengetahui potensi yang dimiliki oleh anak sejak usia dini (0-3 tahun), termasuk bakat dan minatnya. Namun mengingat pada masa sekarang mayoritas kedua orang tua bekerja di luar rumah, maka beberapa dari mereka memilih untuk menyekolahkan anaknya atau menitipkan anak ke daycare yang menyediakan fasilitas belajar. Bisa dipahami ketimbang anak di rumah hanya diasuh oleh baby sitter yang  belum tentu mengerti dunia tumbuh kembang anak.

Sekalipun kedua orang tua bekerja, bukan berarti Anda punya excuse. Anda bisa mengoptimalkan waktu yang ada (terutama saat akhir pekan) untuk bermain bersama si kecil. Berikut beberapa panduan yang perlu dipertimbangkan dalam kegiatan bermain:
  • Space to Explore : biarkan anak tetap bermain bereksplorasi di dalam dan di luar ruang (baik secara fisik maupun mental). Tantangan dan hal baru yang ditemui akan membantu perkembangan mereka.
  • Room to Think : berikan kebebasan untuk anak belajar mandiri dan mampu mengekspresikan perasaan mereka.
  • Opportunities to Experience : biarkan anak untuk belajar hal barudan belajar dari kesalahan mereka.
  • Time to Play : porsikan waktu yang cukup untuk bermain dan berilah kesempatan mereka ‘menjelajahi’ dunia.
  • Freedom to Choose : berikan kebebasan anak untuk memilih kegiatan bermain yang mereka inginkan.
 
Sumber : http://www.anakcerdascerebrofort.com / Kumpulan Informasi Menarik / Foto : ilustrasi
Tags : Pendidikan, Perlukah Anak Balita Sekolah

Wednesday, September 19, 2012

Pengaruh Media Pada Anak, Ini yang Harus Diperhatikan Orangtua!

Dok. Thinkstock
Jakarta - Anak-anak sekarang ini sangat mudah terekspos dengan berbagai jenis media seperti TV, internet, video games, DVD, media cetak dan masih banyak lagi. Maka tak heran jika media membawa pengaruh yang cukup besar terhadap pertumbuhan mental anak. Pengaruh media bisa positif dan edukatif, tapi juga bisa berdampak negatif.

Media seringkali menyorot tentang meningkatnya tindak kriminal, penganiayaan, dan kekerasan. Anak yang sehari-hari melihat hal-hal seperti itu dapat berubah menjadi anak yang bersikap agresif dan berbahaya atau bahkan merasa takut akan menjadi korban kejahatan.

Selain itu, anak yang banyak menghabiskan waktunya untuk mengonsumsi media cenderung hidup dalam fantasi sehingga tidak bisa membedakan mana yang nyata dan tidak nyata. Dalam hal ini, sebagai orangtua Anda dapat membantu sang buah hati untuk menyeleksi semua yang ia lihat di media.

Pengaruh Periklanan Terhadap Anak
Saat menonton televisi, sang buah hati seringkali disuguhi berbagai macam iklan yang berusaha menjual produknya. Mulai dari makanan yang tidak sehat, permainan mahal, film blockbuster, dan sebagainya yang membuat anak tergiur lalu menuntut orangtua untuk membelikannya.

Anak-anak memang target yang mudah dipengaruhi oleh iklan. Namun sebagai orangtua, tentunya Anda tidak ingin membiarkan sang buah hati mengonsumsi hal-hal yang tidak baik sehingga terkadang menolak permintaannya. Terkadang, penolakan orangtua dianggap sebagai hal buruk karena menghalangi kebahagiaan anak.

Lalu bagaimana menyerap semua hal positif yang disajikan media sekaligus meminimalisir dampak negatifnya? Ini dia tipsnya, seperti dikutip dari The Parentszone.

1. Aturlah batas konsumsi media terhadap anak Anda secara ketat. Tentukan berapa jam per minggu untuk sang buah hati menonton televisi, bermain komputer, video game, Playstation, dan sebagainya.

2. Aktivitas fisik seperti bermain di luar rumah dapat membantu mengurangi waktu yang dihabiskan untuk menonton televisi atau bermain game.

3. Letakkanlah televisi, komputer, atau gadget lainnya di ruang keluarga. Dengan begitu, Anda dapat mengontrol apa yang diakses oleh sang buah hati.

4. Mencari tahu rating dan konten acara televisi, film, video game, ataupun buku yang akan diakses oleh sang buah hati.

5. Bijaksanalah mengontrol apa yang diakses sang buah hati di internet ataupun televisi dengan memantau apa yang diakses oleh buah hati Anda.

6. Berlangganan tv cable yang banyak menayangkan acara anak dan tidak banyak menayangkan iklan. Membayar lebih mahal setimpal dengan konten acara televisi yang mendidik bagi anak.


Sumber : http://wolipop.detik.com | Kumpulan Informasi Menarik | Foto : Dok. Thinkstock
Tags : Seputar Anak

Wednesday, September 12, 2012

Hati-hati, Penculik Bisa Jadi Orang Dekat!

Berikan pemahaman pada anak untuk menolak ajakan orang asing saat sedang di jalan.

Kasus penculikan anak makin marak. Hal itu membuat orangtua semakin resah. Pelakunya seringkali bukan orang asing, tapi justru orang yang dekat dengan keluarga dan telah dipercaya.

Hal ini tentu saja membuat banyak orangtua khawatir membiarkan buah hatinya tanpa pengawasan. Baik ke sekolah maupun saat hendak bermain. Tapi hal itu justru membuat orag tua terlalu protektif pada anaknya. Bisa-bisa si anak merasa terkekang.

Kekhawatiran orangtua akan keselamatan anaknya adalah hal wajar. Tapi untuk mencegah terjadinya penculikan, orangtua bisa melakukan tindakan antisipatif.

Ada beberapa hal yang harus Anda tekankan terhadap anak-anak. Berikut kiat untuk menghindari penculikan terhadap anak:
  • Ingatkan anak Anda agar jangan meladeni ajakan orang tidak dikenal meskipun ada iming-iming yang menarik.
  • Anak balita sebaiknya selalu ditemani selama perjalanan berangkat atau pulang sekolah.
  • Ketika bermain di luar rumah pun, anak balita sebaiknya juga didampingi oleh orang yang kita percaya.
  • Waspada terhadap orang-orang yang pernah bekerja di rumah, seperti pembantu, supir, mantan pembantu, atau mantan supir.
  • Orangtua sebaiknya mengetahui latar belakang mereka karena bisa jadi orang-orang itu menjadi kaki tangan penculik, secara sadar atau tidak sadar.
  • Jangan memberi kesempatan kepada orang asing untuk sering datang ke rumah, seperti pacar pembantu, misalnya, karena kesempatan ini mungkin digunakan untuk melakukan kejahatan.
  • Anak sebaiknya tidak perlu mengenakan perhiasan atau membawa barang mahal karena bisa memicu penculikan.
  • Jalin komunikasi yang baik dengan anak. Meskipun masih balita, anak sudah bisa bercerita tentang hal-hal yang dia alami.
  • Begitu pula dengan pihak sekolah. Di sekolah, orangtua harus tahu persis jam belajar sekolah dan dengan siapa anak berangkat dan pulang sekolah.
  • Sekolah juga perlu memastikan anak dijemput orang yang memang ditugasi orangtua.
  • Bila menggunakan jasa angkutan antar-jemput sekolah, orangtua harus tahu pasti siapa pengemudi kendaraan tersebut.
  • Orangtua harus bertanya jika ada orang lain (selain pengemudi tetap) yang mengemudikan kendaraan itu. Agar lebih aman, orangtua bisa menggunakan antar-jemput yang disiapkan sekolah.
  • Pihak sekolah harus bersikap tegas dan bertanggung jawab terhadap anak didiknya selama berada di sekolah.
  • Termasuk memerhatikan orang yang biasa mengantar jemput anak-anak. Jika ada penjemput yang baru, sebaiknya pihak sekolah atau guru terlebih dulu mengontak orangtua anak yang bersangkutan.
  • Untuk anak yang menggunakan kendaraan umum, orangtua harus mengajarkan anak untuk pergi dan pulang sekolah secara berkelompok. Dengan demikian, ketika ada salah satu anak yang hilang bisa terdeteksi secara dini. Jika ada seseorang yang memaksa anak untuk ikut, anak harus mencari tempat persinggahan yang aman seperti rumah penduduk.
  • Orangtua harus berani melaporkan kepada polisi jika ada penculikan meskipun ada ancaman. Namun, sebaiknya laporan itu dilakukan secara diam-diam.
  • Publikasi berlebihan terhadap kasus penculikan yang pelakunya belum tertangkap justru bisa mencelakakan korban.
  • Peran serta masyarakat sangat dibutuhkan dalam rangka ikut mengamati dan mengawasi lingkungan. Masyarakat sebaiknya bersedia menjadi tempat singgah bagi anak-anak yang merasa terancam diikuti orang.

Sumber : http://life.viva.co.id / Kumpulan Informasi Menarik / Foto : Anak Bermain
Tags : Pendidikan, Pendidikan Anak

Tuesday, September 11, 2012

Mitos Keliru: Tumbuh Gigi Penyebab Demam, Diare dan Pipi Merah

Sering dijumpai saat anak mengalami demam, diare dan pipi merah orangtua selalu menanyakan ke dokter: "Dok, tolong diperiksa apakah anak saya tumbuh gigi ?" Selain itu, banyak orangtua selalu mengaitkan berbagai tanda dan gejala tersebut dengan kemungkinan bayinya sedang tumbuh gigi. 

Tumbuh gigi adalah saat gigi bayi tumbuh dan mulai menembus gusinya. Seiring tumbuhnya akar giginya, ujung gigi terdorong melewati gusi . Beberapa orang juga menyebutnya "cutting teeth" atau "teething".Biasanya tumbuh gigi ini diiringi rasa tidak nyaman pada bayi.

Jangan heran bila bayi menjadi rewel. Ternyata tumbuh gigi dapat menyebabkan demam, diare, atau ruam kemerahan di kulit hanya sekedar mitos, dan belum pernah terbukti dalam penelitian. Namun banyak orangtua, nenek atau bahkan sebagian dokter yang masih meyakini mitos salah tersebut.

Bukan hanya nenek atau orang tua, ternyata sebagian dokter atau profesional medis masih percaya beberapa gejala yang sebenarnya tak terkait dengan tumbuh gigi. Keyakinan yang salah orang tua terkait dengan tumbuh gigi dapat mengganggu diagnosis yang tepat dan pengelolaan berbagai penyakit serius.

Diperlukan penelitian lebih jauh untuk memahami fakta dan keyakinan yang salah dikaitkan pertumbuhan gigi. Dokter dan profesional medis perlu dididik tentang tumbuh gigi untuk memberi penjelasan yang masuk akal untuk pengasuh yang bersangkutan.

Tumbuh gigi mengacu pada proses gigi baru naik atau tumbuh melalui gusi. Tumbuh gigi pada bayi dapat mulai semuda usia 2 bulan, meskipun gigi pertama biasanya tidak muncul sampai sekitar usia 6 bulan.



Tuesday, July 24, 2012

Rokok sebabkan anak susah menangkap pelajaran

Rokok sebabkan anak susah menangkap pelajaran. Anak-anak yang menghisap asap rokok (perokok pasif) bisa menyebabkan learning disability. Artinya, kemampuan anak-anak untuk menyerap pelajaran dan ilmu pengetahuan menjadi kurang. Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Kartono Muhammad mengatakan hal ini yang sering tidak disadari masyarakat.

"Kualitas otak atau intelektualitas anak tidak optimal dan tidak seperti yang diharapkan," katanya dalam workshop "Investigasi Fakta di Balik Mitos Industri Tembakau" di Hotel Santika pada Sabtu, (3/7).


Acara workshop ini digelar oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) selama dua hari yang melibatkan sejumlah wartawan media cetak dan elektronik.


Bahaya rokok pasif pun tidak datang dari kepulan asap. Celakanya, lanjut Kartono, asap rokok yang menempel di ruangan atau benda pun ikut berperan. Sebab, asap rokok itu akan bertahan selama tiga tahun di sana. Jadi, anak-anak pun tetap menjadi perorok pasif meski berada di ruangan yang disterilkan dari asap rokok secara temporal.


''Ini diperparah dengan tingkat konsumsi rokok masyarakat Indonesia yang tinggi. "Dua dari tiga laki-laki Indonesia merokok," katanya.


Kartono juga memperkirakan 60 persen laki-laki di Indonesia adalah perokok aktif. Ia juga mengatakan bahwa rokok termasuk barang konsumsi terbesar orang miskin di Indonesia. "Orang miskin Indonesia mengalokasikan dananya untuk beras, rokok, pulsa, makanan, dan pendidikan," ujarnya.


Amat disayangkan, kata Kartono, jika uang masyarakat Indonesia lebih dialokasikan untuk membeli rokok dibandingkan memperbaiki gizi anak dan keluarganya. "Untuk kesehatan, pendidikan, atau membeli makan, mereka bilang tak punya uang, tapi untuk rokok, uang selalu ada," sesalnya.


Belum lagi pendekatan pemerintah yang dianggapnya keliru terutama terhadap pengaturan rokok. Ia mencontohkan kebijakan bantuan langsung tunai (BLT). "Kebijakan ini justru sering dialokasikan orang miskin untuk rokok," katanya.


Ini menunjukkan tidak ada pembinaan untuk bahan baku berupa sumber daya manusia untuk perbaikan kualitas masyarakat Indonesia. Meskipun pendidikan dianggap bisa menjadi jalan untuk meningkatkan tingkat intelektualitas seseorang, namun Kartono beranggapan hal tersebut hanya salah satu aspek saja. "Aspek input, yaitu anak-anak pun punya peranan terhadap tingkat kualitas SDM di masa depan," katanya.


-- dari info republika online --

ehm......jadi buat para ortu nih, klo anak anda bodoh ato lemot ato tidak lulus sekolah, jangan salahkan dia ato gurunya........bisa jadi karena dia sudah menghirup polusi rokok (perokok pasif) dari anda (para bapak) dan para tetangganya. bagaimanapun juga anak itu apa kata orang tua. orang tuan bertanggung jawab penuh terhadap anaknya. udah....gak usah mengelak !!

Sumber : ibudanbalita.com | Kumpulan Informasi Menarik  | Foto : ilustrasi
Tags : Dunia Anak, Bahaya Rokok Bagi Anak

Thursday, July 19, 2012

Mengatasi Anak Suka Membantah

Beberapa orang tua mungkin pernah menemukan saat-saat dimana buah hati mereka membantah. Sebaiknya anak suka membantah, tidak dibalas dengan bantahan pula. Hadapi dengan tenang dan cari tahu apa penyebabnya adalah hal yang seharusnya dilakukan.
 
Saat anak suka membantah, kemungkinan mereka tengah memasuki masa-masa peralihan emosi dalam dirinya. Saat itu, anak berusaha untuk mencari dan menunjukkan jati dirinya. Sikapnya yang suka membantah adalah satu dari kemungkinan cara untuk menunjukkan dirinya.

 Saat anak sudah memasuki usia sekolah dasar dan ia sering membantah, jangan lantas menyalahkan dirinya. Coba Anda lihat bagaimana pola asuh Anda. Pada usia tersebut, anak tidak suka terlalu dikekang atau dilindungi.

Sikap protektive Anda, bisa jadi adalah salah satu penyebab ia menjadi anak suka membantah. Anak seusia tersebut tengah memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Dalam hal ini, jika Anda terlalu membatasi setiap geraknya, ia akan memberontak.

Namun jika sikap membantah terjadi pada anak usia balita, kemungkinan merupakan wujud protes pada orang tua. Mungkin Anda terlalu sibuk dan ia merasa kurang diperhatikan. Bantahan-bantahan yang dilakukannya adalah salah satu cara untuk menarik perhatian Anda.

Lakukan komunikasi dengan anak dan jadikan mereka sahabat adalah cara lain yang bisa dilakukan untuk lebih dekat dengan anak Anda. Bimbinglah mereka tanpa harus menuntutnya berlebihan dan mereka akan melewati masa peralihannya dengan baik.

Perhatian dan kasih sayang adalah faktor yang sangat penting dalam pola asuh anak. Tidak perlu berlebihan, tapi jangan pula sampai kurang. Porsi yang pas anak membantu mengatasi sikap anak suka membantah


Sumber : melindahospital.com | Kumpulan Informasi Menarik  | Foto : ilustrasi
Tags : Dunia Anak, Mengatasi Anak Suka Membantah

Friday, July 13, 2012

Cara Menghentikan & Menghilangkan Kebiasaan Mengompol pada Anak

Mengompol saat tidur malam hari biasa terjadi pada saat si buah hati masih anak-anak. Namun pada kondisi tertentu kadang anak masih tetap suka mengompol saat malam hari walaupun dia sudah sekolah SD. Padahal idealnya setelah usia lima tahun anak harus berhenti mengompol. Sebab, pada usia lebih dari 18 bulan saja anak sudah mulai bisa diajak untuk beralih dari popok ke toilet. Ketika itu, otot-otot kandung kemihnya sudah lebih matang.

Sebelum berusaha untuk mengobati atau membantu menghilangkan kebiasaan mengompol pada anak, terlebih dahulu perlu diketahui apa sebenarnya penyebab dia mengompol. Perhatikan juga kapan waktu atau jam-jam saat dia mengompol.
  1. Latih anak untuk minum 30 menit sebelum tidur kemudian suruh atau bawalah anak anda ke kamar mandi untuk buang air kecil menjelang tidur. Diharapkan ketika berangkat tidur, kadung kemihnya dalam keadaan kosong. hal tersebut sangat efektif mencegah anak Bunda berhenti mengompol.
  2. Lihat pola ngompolnya anak, kalau anak biasa ngompol jam 1-an, sebelum jam 1 kita sudah bangunkan, kalau tidak mau bangun digendong ke kamar mandi untuk kita pancing pipis.
  3. Atau bisa juga dengan membangunkan anak untuk buang air kecil saat malam hari di pertengahan saat dia tidur. Jika jam tidur anak delapan jam, coba bangunkan anak 4 jam setelah tidur.
  4. Berikan konsekuensi pada anak yang suka mengompol. Misalnya ajak anak mencuci bekas ompol, angkat seprai, dan celana bekas ompol. Harus ada kesadaran bahwa ada konsekuensi kalau anak mengompol. Kemudian kalau dia tidak mengompol, beri hadiah. Dengan demikian, mereka akan tepacu dan berusaha lebih baik dalam mengatasi masalahnya sendiri.
  5. Ciptakan kondisi yang baik dan kondusif buat mereka. Hidupkan lampu toilet sepanjang malam, agar mereka bisa berjalan sendiri ketika semua telah tertidur. Namun jika mereka enggan ke kamar kecil, sediakan pis pot disamping kamar tidur sehingga ketika terbangun, ada tempat bagi mereka untuk buang air kecil.
  6. Rajin-rajin untuk mengingatkan anak buang air kecil. Ini akan membuat anak tidak malas buang air kecil.
  7. Jangan berikan popok yang seakan membiarkan atau memperbolehkan anak buang air kecil di kasur atau di celana.
Ada tips lain yang saya coba ambil dari kompasiana. Meski ini terlihat sangat tidak rasional, namun mungkin perlu anda coba karena menurut pengalamannya ini berhasil.

Sebelum anak-anak berangkat tidur atau kalau anak-anak sudah masuk kamar tidurnya, pergi ke depan pintu kamar dan usapkan tangan pada gagang pintu dengan niat agar anak kita tidak ngompol lagi. Selanjutnya, tangan yang tadi dipakai mengusap gagang pintu disentuhkan pada alat kelamin anak tersebut.

Selamat mencoba dan semoga anak anda bisa menghilangkan kebiasaan mengompolnya saat tidur malam hari.

Sumber : inicaraku.com | Kumpulan Informasi Menarik  | Foto : ilustrasi
Tags : Dunia Anak, Cara Menghentikan & Menghilangkan Kebiasaan Mengompol pada Anak